Judul Buku : Fitrah Based Education
Pengarang : Harry SantosaKategori : Non-Fiksi (Literatur)
ISBN : 978-602-73746-0-7
Ukuran Buku : 210 x 297 x 30 mm
Halaman : 443 halaman (full colour)
Harga : Rp 350000
Tahun Terbit : Cetakan pertama 2005, cetakan ke delapan 2020
Sebagai orang tua, pernahkah kita merasa ragu akan kemampuan kita untuk mendidik anak-anak kita?
Ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak kita, tetapi belum tahu bagimana caranya? apakah dengan mendaftarkannya pada sekolah boarding, sekolah alam, Islam terpadu, atau sekolah-sekolah Favorit dan terbaik lainnya?
Atau malah kita didik sendiri anak-anak kita di rumah?
Bagaimana caranya? Apakah kita sanggup sendiri mengajarkan semua mata pelajaran yang ada disekolah? Atau apakah kita sanggup mengundang guru privat ke rumah?
Jika, kalian pernah di posisi itu, kita sama.
Perkenalkan saya Nely, Ibu dari dua anak perempuan, yang pertama sekarang berusia 7 tahun dan yang kedua 4 tahun. Untuk bisa memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak kami, kami memilih untuk mengambil jalur pendidikan mandiri, dimana kami sebagai orang tuanya bertanggung jawab penuh secara mandiri terhadap pendidikan anak-anak kami. Atau lebih dikenal luas sebagai praktisi homeschooling.
Tentu saja, selama proses pemilihan jalur ini tidaklah mudah. Sebelumnya, kami mencari tahu terlebih dahulu apa itu homeschooling, bagaimana prosesnya, kapan bisa dilakukan, siapa saja yang sudah berhasil melakukannya (supaya kami dapat gambaran atau contoh figur keluarga). Kami ikut berbagai kelas homeschooling, membaca bukunya, sampai mencari dan bergabung dengan komunitasnya.
Ketika kami sudah mendapat materi penuh, dan merasa sudah cukup paham mengenai homeschooling, serta kami yakin akan pilihan ini. Munculah keraguan seperti di awal paragraf yang saya ceritakan.
Qodarullah, Allah maha baik, Sang penuntun dan pemberi petunjuk. Ditunjukkilah saya dengan buku "Fitrah Based Education". Saya lupa, saya dapat informasi mengenai buku ini dari siapa, tapi saat itu saya tertarik dan mencari tahu dimana saya dapat membelinya. Begituh melihat harga bukunya, yang saat itu bagi saya cukup lumayan mahal, saya sempat mengurungkan niat saya.
Qodarullah, Allah memberikan kesempatan pada saya di tahun berikutnya, saya dimudahkan dan dilapangkan rezekinya untuk bisa membeli buku ini melalui official resminya di salah satu marketplace ternama di Indonesia ya (logonya berwarna hijau, saya lebih nyaman belanja disini. Upst! melebar nih pembahasanya, emoticon tangan mengatup!)
Begituh membuka dan membaca lembar kata pengantarnya sudah membuat hati ini, nyessss! Rasanya seperti tersentuh air es yang dingin pada saat mengantuk, kemudian karena kesejukan itu membuat kita terbangun dan tersadarkan. Bahwa, bukan kebetulan kita menjadi orang tua sebagai pemegang amanah pendidikan anak-anak kita, bukan kebetulan juga buku FBE (fitrah based education) ini berada di tangan kita. Semuanya atas kehendak Allah, yang ingin agar kita bisa menemukan misi (mission) dan maksud (purpose) kehidupan sejati kita dan anak-anak kita.
Dari sini saya mengenal kata misi dan maksud kehidupan sejati. Membuat saya mulai berpikir dan mencoba mencari tahu apa sebenarnya misi dan maksud dari hidup saya?
Ada kalimat yang saya suka dan membuat rasa percaya diri saya mulai bangkit, yaitu
" Tidak perlu BEROBESESI mengejar kesempatan dan peluang apapun untuk diri dan anak-anak kita, karena semua itu akan datang dengan sendirinya kepada kita".
Sejak awal mengenal dan mempelajari homeschooling, kami diberitahu untuk mulai membuat visi dan misi dari pendidikan anak kami. Tujuannya, supaya kita tahu apa yang ingin kita capai dalam proses mendidik anak-anak kita secara mandiri ini. Saat itu, saya sungguh bingung dan munculah berbagai keinginan, angan-angan dan harapan kami tentang nanti anak-anak kami akan menjadi seperti apa.
Halaman-halaman awal buku FBE berhasil membuka hati dan pikiran saya, bahwa visi dan misi pendidikan keluarga itu harus selaras dengan tujuan manusia diciptakan di bumi ini. Sesederhana itu, karena apa?
Karena,
"Pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampuh mentransformasi POTENSI FITRAH menuju MISI (peran) peradaban untuk mencapai keseluruhan the purpose of life (tujuan penciptaan manusia di bumi)".
Begituh kata ustad Harry Santosa. Kalimat-kalimatnya dalam kata pengantar dan latar belakang di buku ini membuat saya berpikir keras supaya bisa mencerna dan memahami apa yang dimaksud beliau. Dan tentu saja saya mendapat jawaban dan pemahamannya setelah saya masuk dan membaca keseluruhan isi dari buku ini yang terdiri dari 5 bab pembahasan. Setiap babnya saya mendapati kesan tersendiri, tapi tetap menggetarkan hati namun semakin mengukuhkan keyakinan saya.
Rasa bingung, penasaran, dan ingin tahu apa yang dimaksud dengan pendidikan sejati, fitrah, the purpose of life, membuat saya lanjut membuka halaman-halaman berikutnya. Sempat bingung dengan gaya penulisan yang beliau gunakan, membuat saya perlu membaca setiap kelimatnya beberapa kali sambil diresapi supaya saya mengerti secara utuh apa yang dimaksud beliau. Di sini saya gunakan buku jurnal saya untuk mencatat hal-hal penting yang saya dapatkan, sehingga pengetahuan yang saya dapat tidak menguap begituh saja dan saya memperoleh pemahamannya (beginilah cara saya belajar).
Saat membaca bab pertama, disini saya merasa diajak untuk bermuhasabah, merefleksikan atau melakukan penilaian sendiri terhadap apa sebenarnya tujuan kita (sebagai manusia) diciptakan di bumi ini? Pikiran saya diajak untuk mengingat kembali inti dan dasar dari kehidupan ini. Yaitu seperti yang tertulis dalam kitabullah, bahwa :
" Manusia diciptakan di Bumi ini adalah untuk BERIBADAH kepada ALLAH, dan menjadi KHALIFAH, serta menjalankan perannya sebagai IMAROH (memakmurkan bumi)"
Maka, tujuan PENDIDIKAN SEJATI adalah yang selaras dengan tujuan PENCIPTAAN manusia di bumi ini.
Beranjak ke bab ke2, dengan fakta-fakta yang ust. Harry tunjukkan, beserta pendapat dan riset dari berbagai para ahli di bidang pendidikan dan pengamat pendidikan. Kembali saya berkaca diri, bahkan sampai merasa diri ini dikuliti. Saya membayangkan apa yang telah saya alami dan dapatkan dari sistem pendidikan selama saya menjadi seorang siswa selama 12 tahun dan sebagai pendidik selama 3 tahun (kurang lebih). Fakta-fakta yang disajikan dalam bab ini, memang terjadi di lapangan, dimana sekolah hanya mampuh membuat 3 anak sebagai juara, ketimbang semua anak jadi juara. Padahal banyak bintang di langit, banyak sekali keunikan dan keahlian anak-anak yang tidak bisa disamaratakan. Keunikan dan keahlian itu bisa jadi cemerlang bila bisa dilihat dan tidak dipandang sebelah mata, jika dibandingkan dengan kemampuan anak-anak untuk mengerjakan dan menjawab soal-soal ujian.
Menurut ust.Harry, sejak jaman dahulu sampai sekarang sistem pendidikan kita hampir tidak pernah berubah. Orang tua berbondong-bondong mengirimkan anak-anaknya ke sebuah ruangan yang terdiri dari 4 dinding dan 1 pintu (bonusnya jika ada jendelanya) dan ada satu guru yang berdiri dan mengajarkan materi di depan, siswanya duduk dibangku-bangku yang berbaris sambil mendengarkan. Tujuannya adalah untuk membuat anak-anak siap menghadapi kehidupan dengan baik. Tapi, kita lupa, dengan cara demikian malah kita memisahkan anak-anak itu dari kehidupan dan dunia yang sesungguhnya. Padahal,
"Belajar adalah bagian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari dan pekerjaan, serta berjalan beriringan".
Sangat realeted dengan pengalaman saya, setelah 12 + 4 tahun begituh selesai menjalaninya, saya merasa seperti berada di dunia yang berbeda, dan inilah dunia sesungguhnya. Bingung? "yes". Saya tidak tahu bagaimana menjalani keseharian saya, karena dulu saya terbiasa bangun pagi kemudian menenteng tas, berangkat sekolah, mendengarkan pelajaran, mengikuti ujian, kembali ke rumah saya harus mengerjakan berbagai tugas sekolah, hanya punya waktu sebentar untuk bermain dengan teman (bahkan semakin naik jenjang pendidikannya, saya semakin tidak punya waktu untuk bermain bahkan untuk menjadi diri sendiri). Saya tidak terhubung dengan lingkungan, sangat sulit rasanya untuk bergabung dan masuk ke dunia sosial, padahal saya bukan anak-anak lagi. Ingin sekali berkontribusi untuk lingkungan, tapi saya tidak tahu dan bahkan malu untuk memulainya.
Pembahasan di bab 2 menjadi bagian favorite saya dari buku ini. Selain melakukan penilaian terhadap sistem pendidikan di Indonesia dan di seluruh dunia, Ust. Harry juga menuliskan solusinya, yaitu pendidikan seharusnya :
" Sesuai dengan perkembangan abad 21 ini, dimana keterampilan belajar mandiri sangat penting dan menjadi kunci. Kurikulum seharusnya menyesuaikan dengan karakteristik murid, bukan sebaliknya".
Dan, satu pesan beliau
"Putus sekolah boleh, tapi putus belajar jangan!"
Bab 3, 4, dan 5 membahas lebih detail tentang teknis bagaimana kita memulai merancang dan memulai melakukan pendidikan sejati itu. Yaitu dengan berbasis FITRAH. Menurut beliau, seorang anak terlahir kedunia ini di dalam dirinya sudah terinstal berbagai perangkat yang diperlukan untuk menjalani kehidupannya sesuai the purpose of life. Hanya saja, ketidak tahuan kita sebagai orang tua untuk mengenali dan mengaktifkan potensi fitrahnya, justru melukai dan bahkan mematikan fitrahnya.
Lalu, bagaimana supaya kita sebagai orang tua mampuh berperan untuk bisa mengenali dan mengaktifkan potensi fitrah anak-anak kita?
Pertama, munculkan keyakinan bahwa kita adalah orang tua terbaik, pendidik terbaik yang telah ALLAH takdirkan untuk anak-anak kita. Tidak ada yang lebih kompeten selain kita.
Kedua, yakin bahwa Allah menciptakan anak-anak kita sebagai manusia yang sempurna yang telah dilengkapi akal, dan bahwa dia sudah terinstal di dalamnya berbagai keterampilan dan keahlian untuk menjalani hidupnya di dunia ini.
Ketiga, libatkan Allah dalam pendidikan dan pengasuhan anak-anak kita. Karena tidak ada satupun daya upaya kita terjadi karena kehendak Allah.
...".
Serta berbagi tips dan tips tecnical dibahas dalam bab 4 dan 5.
Memang, butuh usaha/effort yang lebih untuk bisa membaca buku ini, dengan bentuk landscape-nya dan cukup berat. Kita membutuhkan ruang yang cukup luas agar buku ini berada pada posisi nyaman untuk bisa kita baca. Tapi, mungkin jika dibuat ukurannya lebih kecil dan pas ditangan gituh, buku ini bisa berjilid-jilid ya, karena memang isi tulisan dan pembahasnnya sangat banyak.
Sungguh, harga yang dibandrol untuk buku ini tidak akan membuat kita menyesal membelinya. Setelah berhasil membaca keseluruhan isi buku, saya merasakan kelegaan, muncul keyakinan, saya tahu ke arah mana tujuan dari pendidikan anak-anak kami yang harus kami gapai bersama-sama. Untuk para orang tua atau bahkan calon orang tua, saya rekomendasikan buku ini untuk menjadi bahan bacaan wajib. Buku ini akan menjadi landasan kita untuk menentukan ke arah mana pendidikan keluarga kita akan bermuara, tentunya sesuai dengan syariat islam.
Demikian review dari saya tentang buku Fitrah Based Education dari ust. Hary Santosa (almarhum), semoga beliau dilapangkan dan diterangkan kuburnya, karena buku ini sangat bermanfaat bagi banyak umat. Aamiin.
Sampai jumpa di review buku selanjutnya ya.
0 Komentar