Judul Buku : Pendidik Rumahan

Penulis : Musta'ien dan Ical

Kategori : Non-fiksi (Literatur)

Jumlah Halaman : 114

Harga : Rp 125.000

Tahun Terbit : Mei 2017

Penerbit : CV. True Creative Aid



Setelah memutuskan Homeschooling sebagai jalur pendidikan yang kami pilih untuk mendidik anak-anak kami. Sekitar tahun 2019, saat itu usia anak-anak kami 5 dan 2 tahun. Merasa diri ini tidak memiliki ilmu sebagai bekal untuk meniti jalan ini. Saya "kelagapan" berusaha mengejar dan mempelajari aneka ilmu yang sekiranya saya butuhkan untuk mendampingi anak-anak kami. Memanglah penyesalan itu datangnya terakhir. 

"Kenapa dahulu sebelum menikah, saya tidak belajar ilmu ini? Ilmu tentang keluarga, tentang perkembangan anak? Ilmu Parenting?"

Tidak larut dalam kepusingan dan penyesalan, karena sebenarnya sudah pusing. 

Saya beranikan diri, bertekad untuk mempelajari ilmu-ilmu yang sekiranya saya butuhkan. Qodarullah, seorang teman menunjukkan buku ini pada saya. Dan saya tertarik untuk membacanya, tapi tidak berani untuk meminjam bukunya. Akhirnya, Allah maha baik, saya dapat memiliki buku ini sendiri pada tahun 2020. Testimoni dari teman saya tentang buku ini adalah, 

"buku ini berisi teknis bagaimana kita bisa membuat rencana dan mengeksekusi ide-ide kegiatan untuk anak-anak kita dirumah". 

Singkatnya, para newbie, praktisi homeschooling yang baru seperti saya, sangat disarankan untuk membaca buku ini.

Pandangan Umum tentang buku Pendidik Rumahan

Buku Pendidik Rumahan ini memiliki ukuran buku a5, kecil seukuran buku-buku pada umumnya.  Tidak tebal namun isinya sangat kaya dan penuh materi teknis yang patut kita coba dan terapkan dirumah. Karena ukuran bukunya yang ramah ditangan, sehingga buku ini sangat mudah dibaca dan tidak memerlukan ruang yang cukup luas, untuk membuat kita nyaman membacanya.

Gaya tulisan yang disajikan to the point, berdasarkan pengalaman penulis dalam keseharian mereka membersamai anak-anak. Dan yang paling saya sukai disini diberikan contoh penerapannya. Sehingga bisa kita contoh dan pakai, tentunya setelah disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keluarga kita masing-masing.

Secara garis besar, isi buku ini sejalan dengan prinsip dasar fitrah based education karangan Ust. Harry Santosa. Isinya mengingatkan kita tentang tujuan pendidikan anak-anak yang hendaknya selaras dengan fitrah yang telah Allah berikan untuk setiap anak-anak.

Apa yang saya dapat setelah membaca buku ini?

Dari bab I, saya merasa diarahkan untuk beraktifitas sebagai selayaknya seorang muslim, tentang ber-NIAT sebelum melakukan sesuatu hal. Karena sejatinya, setiap aktivitas kita akan dinilai dari niatnya. Caranya adalah dengan menuliskannya pada buku khusus. Kalau saya (sedang dalam proses pembiasaaan) menuliskan niat tersebut dalam jurnal keseharian saya, berupa rencana kegiatan. Manfaatnya sungguh terasa, dengan menuliskannya saya merasa diri ini dan alam semesta atas izin Allah mendukung terwujudnya rencana tersebut. Maka saya merasa dikuatkan untuk terus berusaha melakukan kebiasaan baik ini. 

Lanjut di bab II, secara detail penulis menceritakan bagaimana cara kita agar bisa berpikir kreatif dan menciptakan ide kegiatan. Saya jadi menyadari bahwa ide kreatif itu muncul tidak jauh dari sekitar kita. Kita hanya perlu menajamkan daya amat kita terhadap apa yang sedang diminati  anak-anak, apa saja keunikan dan kelebihan anak-anak kita, apa yang kita miliki sebagai orang tua (keahlian atau keterampilan yang dikuasai), dan juga ada apa di lingkungan rumah kita dan sekitarnya. Ketiganya jika diramu sedemikan rupa, merupakan modal dasar dari terbentuknya ide kegiatan yang kreatif.

Sedangakan dari bab III, saya jadi belajar bagaimana kita berfokus pada kelebihan anak-anak, tidak segan-segan memuji dan memberikan sanjungan pada anak-anak atas kelebihan dan pencapaiannya. Dari sini juga, kami belajar memberikan penghargaan setingi-tingginya atas usaha anak-anak kita saat mengerjakan sesuatu hal. Misalnya saja dalam kasus kami, kami coba memberikan penghargaan pada Harmony (7tahun) atas usaha dan kedisiplinannya belajar berpuasa seharian penuh mengikuti pola yang dia ajukan dan sepakati bersama yaitu 3 hari berpuasa dan 2 hari libur puasa. Adik Zaina-pun (4 tahun)  mendapatkan piagam serupa atas usahanya belajar berpuasa semampuhnya. Ini tentu hal yang biasa dalam pandangan kita. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang anak-anak, mereka sudah berusaha dengan sungguh-sungguh dan akan sangat senang ketika menerima piagam penghargaan sebagai tanda apresiasi tertinggi yang dia dapatkan.


Kesan setelah membaca buku Pendidik Rumahan

Setiap babnya, saya merasa selalu diingatkan tentang "keunikan" dari anak-anak dan bahkan diri kita sendiri (sebagai orang tua maupun sebagai pribadi) adalah sumber ide kegiatan kreatif. Juga tentang tujuan penciptaan kita dibumi ini yang seringnya kita abaikan, padahal seharusnya tujuan pendidikan anak-anak kita adalah selaras dengan tujuan penciptaan manusia di bumi ini.

Tujuan saya membaca buku ini adalah untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang parenting, tetapi yang saya dapatkan sepanjang halaman buku ini adalah proses diri ini ber-refleksi, berkaca diri sampai dimana diri ini? Apa yang sudah saya lakukan selama umur saya ini? Selama menjadi orang tua? Sudah sampai mana usaha kami untuk mendidik anak-anak kami?. 

Salah satu kalimat yang paling saya sukai dari buku ini adalah :

"Anda adalah TOKOHnya!

Beranilah!

Temukan JALAN anda!"

Sebenarnya ini adalah judul pembahasan dalam bab I, tapi entah mengapa menurut saya ini serangkaian kata yang memotivasi saya.

Saya juga mendapat pengertian baru tentang arti PENDIDIKAN dan PENGETAHUAN. Yaitu PENDIDIKAN adalah USAHA untuk menemukan dan mengeluarkan POTENSI UNIK berupa KETERAMPILAN atau KARAKTER yang didapat dari PENGALAMAN melakukan aneka kegiatan. Pendidikan juga merupakan usaha untuk menjadi SEBAB berkembanganya sesuatu, secara BERTAHAP untuk mencapai FITRAH penciptaanya atau jalan ke UNIK-kannya. 

Sedangkan PENGETAHUAN itu sesungguhnya bukan untuk dicekoki dan dihapalkan oleh anak-anak, tetapi menjadi bumbu asik agar anak mau untuk terus mengasah kecakapannya.

Selanjutnya, 

Setelah selesai membaca buku ini, muncul ide di benak saya supaya para calon istri/suami, calon ibu/bapak, calon pendidik baik pendidik rumahan seperti saya maupun pendidik sekolah formal. Supaya mereka tidak mengalami hal yang sama seperti saya, merasa terlambat kemudian "keteteran" sambil belajar ilmu parenting sambil mempraktekkannya, sungguh luar biasa rasanya. Belum lagi harus pandai-pandai mengatur waktu supaya bisa belajar mencari ilmu di tengah kesibukan mengurus rumah dan anak-anak.

"Bagaimana kalau ilmu parenting dimasukkan dalam kurikulum pendidikan tinggi, sebagai mata kuliah pilihan atau bahkan mata kuliah wajib bagi mahasiswa tingkat akhir sebagai calon orang tua. Tidak usah banyak-banyak, cukup 2 sks saja. Dengan demikian, pendidikan kita membantu generasi muda, baligh, calon orang tua memiliki ilmu untuk bekal, bersiap menjadi orang tua/pendidik yang baik bagi calon anak-anaknya kelak".

Tapi, ya, kadang kita belum merasa perlu mempelajari suatu ilmu tertentu sampai kita berada dikondisi dimana ilmu itu PERLU dipakai, supaya kita bisa melalui kondisi itu dengan sebaik-baiknya. Sehingga, kita bisa melanjutkan perjalanan kita untuk mencapai tujuan hidup kita.

Sudahkah kita menyadari kondisi kita saat ini? ilmu apa yang perlu kita pakai untuk melaluinya? Sudah siap dan dikuasaikah ilmu itu?

Ciruas, pekan ke 2 Mei 2022

disela-sela waktu tidur anak-anak, sambil menikmati waktu sendiri, mengisi waktu dengan produktif sebagai balasan telah memiliki buku Pendidik Rumahan ini.

ditulis oleh

Nely mommy H&Z