Judul Buku : Remagogi (Pendidikan Darurat untuk Pendewasaan Remaja) Buku ke 2
Penulis : Drs. Adriano Rusfi, Psikolog
Jumlah Halaman : 226
Tahun Terbit : 2024
Penerbit : The Aqil Baligh Institute
Kenapa tiba-tiba buku ke dua nih?
Karena buku pertama sedang tidak bersemangat untuk menuliskannya dalam blog ini, tapi saya sudah membuat postinganya di feed Instagram saya. Nanti bisa dilihat ya disini
https://www.instagram.com/p/DDmRL3OyClf/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
Remagogi adalah sebuah istilah yang dicetuskan oleh Ust. Aad (sapaan Adriano Rusfi) untuk metodologi bagi pendikan remaja, sebagai tanda kepeduliannya terhadap rentan usia ini dimana mereka seharusnya sudah mencapai aqil dan baligh secara bersamaan, sudah dewasa secara utuh. Namun oleh sistem yang berlaku luas, diusianya itu mereka mengalami extension (perpanjangan) masa kanak-kanak. Mereka dianggap masih anak-anak dan belum mampuh menjalani kehidupannya sendiri, belum memiliki kompetensi sementara pendidikan yang berlaku tidak juga memberikan kesempatan untuk mereka berlatih menjadi dewasa.
Menarik sekali ya, saya sendiri tertarik untuk membaca ini karena dalam rangka menyiapkan diri dan mencari indikator-indikator yang perlu dicapai oleh anak saya yang berada dipenghujung masa kanak-kanak dan hampir sampai di gerbang remaja ini.
Apa saja isi pembahasan dalam buku ini?
Sini saya paparkan sedikit, karena kalau mau lebih jelas mendingan beli dan baca sendiri ya bukunya? hihiii
Insight yang di dapat setelah membaca buku
Saya baru paham istilah "It takes a vilage to rise a child", dimana kita membutuhkan orang sekampung untuk mendidik seorang anak menuju proses pendewasaan sepenuhnya. Jelas dibeberkan bagaimana caranya masyarakat di lingkungan sama-sama berperan mendidik anak-anak untuk menuju kedewasaan. Karena, menjadi dewasa itu tidak bisa secara alami terwujud dengan sendirinya, tetapi harus melalui proses pendidikan yang sistematis. Dan Kedewasaan adalah kompetensi paling utama (life competence) sebuah tahapan kepribadian yang harus dimiliki, sebelum pendidikan apapun. Dan tentu peran orang tua disini sangat crusial, karena akan bertambah perannya untuk menjadi coach/mentor bagi anaknya yang dalam proses pendidikan menuju kedewasaan itu.
Apa yang harus disiapkan!
Pertama-tama, dari keseluruhan adalah siapkan mindset atau pola pikir yang benar, baik anak dan juga orang tua. Kemudian siapkan lingkungan yang nyata, bukan hasil rekayasa. Disini saya tercengang, betapa lingkungan alami sangat berpengaruh dalam proses ini. Beri kesempatan anak untuk menjadi mandiri dalam segala pengambilan keputusan dan tanggung jawab kehidupannya.
Bahkan untuk merasakan bagaimana konsekuensi atas pengambilan keputusan dan tanggunjawab yang dipilihnya itu harus disiapkan juga melalui proses kesepakatan bersama orang tua, dan juga diskusi terkait pengadaan sanksi-sanksi hukum dan sosial apabila kesepakatannya itu dilanggar. Ketersediaan aktivitas orang dewasa dimana anak-anak ini bisa terlibat baik melalui kegiatan sosial, keamanan dan kebencanaan, dan lain-lain yang tersedia dan biasa terjadi secara alami di lingkungan tempat tinggal.
Mindset anak tentang remaja & kedewasaan
Sadarkan dan bangun mindset mereka bahwa diusia yang oleh kebanyakan orang menyebutnya "Remaja" atau teeneger, mereka sedang dirundung masalah besar. Selain ada banyak kompetensi harus dikuasai untuk bisa menjalankan kehidupan dengan baik, juga bagaimana mereka akan merasakan gejolak jiwa akibat perubahan hormon pada tubuh yang akan sangat mempengaruhi psikologis mereka. Bukan malah takut, tetapi mereka harus bangga akan kedewasaan dengan membangun rasa kepercayaan diri bahwa mereka mampuh mencapai kedewasaan itu. Di tengah semua itu, mereka juga harus bisa menanamkan dalam hati bahwa Allah maha penolong dan pemberi petunjuk, sehingga mereka bisa menguasai ilmu dan keterampilan yang menunjang, dan juga tetap memiliki nurani (keimanan, dimana kelak akan menjadi benteng di tengah gempuran permasalahan hidup), karakter serta motivasi selama proses menuju kedewasaan itu.
Transformasi kasih sayang orang tua menjadi ketegaan
Pada saat ini, sebagai orang tua, kita harus mempunyai pemahaman bahwa "anak-anak kita memang membutuhkan ketidaknyamanan agar mereka mampu mencapai kedewasaan". Sehingga kita mampuh merubah rasa kasih sayang kita menjadi ketegaan, yang akan menjadi kekuatan bagi anak-anak dalam menjalani proses pendidikan menuju kedewasaan ini. Dan yang diharapkan bertanggung jawab memerankan ini adalah seorang Ayah bukan seorang ibu. Karena seorang lelaki lah yang mampuh untuk bersikap tega kepada anak-anaknya. Kita harus tega untuk melatih mereka supaya bangkit naluri survivalnya. Selama itu kita hanya memantau, memerhatikan, dan membiarkan prosesnya dijalani sendiri oleh anak. Sedang yang boleh kita terus lakukan adalah hanya mendoakan dan memulihkan mereka diujung babak setiap perjuangannya.
Mindset dulu sebelum ke metode dan teknik
Lagi-lagi, Ust. Adriano Rusfi menginginkan kita untuk memahami dan menanamkan dalam pola pikir kita bahwa metode remagogi ini di dasarkan pada asumsi-asumsi. Tidak tanggung-tanggung asumsi ini mengisi ¾ bagian dari bab 6 di dalam buku ini. Ini berarti sangat penting untuk dipahami sebelum kita berbicara soal metode dan teknik dari remagogi itu sendiri.
Hal yang menarik perhatian saya adalah dimana kita harus berasumsi baik, sangat baik tentang karakter anak remaja. Tidak seperti yang digambarkan oleh banyak berita yang berseliweran di jagat maya dan di lingkungan tempat tinggal kita sendiri. Remaja adalah anak-anak yang dalam masalah, emosinya meletup-letup, nakal, pembangkang, suka tawuran, dll.
Tapi, Ust Aad mau kita berasumsi bahwa remaja adalah sama seperti manusia pada rentan umur yang lain, makhluk yang sempurna, berdaya dan mulia, juga bermoral dan mencintai kebenaran. Kita juga harusnya menanamkan asumsi dalam pikiran kita sendiri bahwa diusia belasan tahun ini, remaja seharusnya sudah dewasa dan tidak dianggap sebagai anak-anak lagi. Kita harus menghargai mereka dengan memberikan kepercayaan pada mereka untuk bertanggung jawab atas pilihan sadar dan bebas yang diambilnya tanpa tekanan, serta mereka memiliki potensi yang lengkap untuk bisa bertahan hidup dengan baik.
Keimanan di atas semuanya
Ini lah betapa kehidupan kita itu berasal dari Allah, segala apa yang terjadi di dunia ini atas kehendak Allah. Dunia bekerja menurut takdir Allah. Pun selama proses pendidikan anak kita harus melibatkan Allah, kita tidak bisa berupaya sendiri. Tidak akan mungkin. Oleh karenanya sebelum metode dan teknik remagogi dilancarkan, maka kita harus menanamkan asumsi dalam pikiran kita bahwa : kehidupan ini niscaya sudah dibuat sempurna dan mudah sehingga tidak akan membebani hambaNya melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya dan Allah maha mengurusi makhlukNya yang akan selalu memberikan pertolongan pada manusia (dan anak-anak kita) dalam memikul beban kehidupan. Jangan ragu lagi, dan mulai lah untuk melibatkan Allah dalam proses pendidikan anak-anak kita.
Tujuan Hidup dan penciptaan manusia
Tidak lupa, dan tidak kalah penting diantara semua yang telah disebutkan sebelumnya. Anak-anak remaja kita juga harus mengetahui apa sebenarnya tujuan dari hidup kita di dunia ini, apa tujuan dari Allah menciptakan manusia di bumi.
Sehingga kita harus mengingat asumsi bahwa kehidupan ini tidak abadi, diciptakannya dunia ini adalah sebagai ladang untuk kita merasakan permainan dan mengalami cobaan kehidupan untuk menguji keimanan kita. Sebelum akhirnya nanti kita akan kembali ke kehidupan sesudahnya, yaitu di akhirat sana apakah keimanan kita sudah memenuhi syarat untuk masuk ke dalam surgaNya? Dan sebagai tempat tingal sementara, dunia memiliki kehidupan beserta realitanya yang dibutuhkan oleh anak untuk mendapatkan kesempatan belajar yang luas melalui keterlibatan dalam masalah sosial dan lingkungan, termasuk yang cukup serius untuk bisa menjadi dewasa seutuhnya.
Metodologi Remagogi
Sistem pendidikan di Indonesia mengkotak-kotakkan umur anak ke dalam jenjang sekolah. Nah, para remaja ini menempati posisi pendidikan menengah (SMP dan SMA). Metodologi yang sebaiknya diterapkan pada saat SMP adalah “pembebanan” .Mereka harus dibebani dengan beban kehidupan dan beban syari’at sekaligus, bukan malah diangkat atau dipikul bebannya oleh orang tua. Diusia ini mereka sudah bisa dianggap sebagai mukallaf . apa yang perlu mereka pelajari adalah berbagai kesiapan untuk menunjang hal tersebut, bukan hanya fokus pada satu hal saja (sebut saja rana kognitif, misalnya). Apalagi untuk laki-laki, pada jenjang ini ia diharuskan sudah bisa mencari nafkah sendiri, minimal sekedar untuk mendapat uang jajan. Tidak demikian untuk perempuan, karena nafkahnya masih jadi tanggungjawab Ayahnya/walinya sampai ia menikah, dan setelah menikah maka nafkahnya akan ditanggung oleh suaminya. Perempuan tidak pernah ditakdirkan oleh Allah untuk menafkahi dirinya sendiri (MasyaAllah, mulia sekali islam memandang perempuan ya).Kemudian saat SMA, metodologinya adalah “penuntutan” dimana pada rentan ini remaja sudah harus berjuang menuntut ilmu, kemandirian, kedewasaan bahkan kehidupan itu sendiri dari dalam diri mereka sendiri.
Teknik Remagogi
Pada jenjang SMP : orienteering, literacy dan tutorial atau remaja pada usia ini akan diorientasikan tentang kehidupan dewasa yang harus mereka jalani, dibekali dengan literasi tentangnya dan kemudian belajar dari para tutor dan mentor.Sedangkan pada SMA : melibatkan menyelenggarakan, menjalankan, menuntaskan dan mencapai target dari proyek-proyek. Jika pada saat SMP, mereka diharuskan untuk bisa menyelesaikan tugas/projeknya, maka pada saat SMA mereka harus bisa mencapai target-terget atau ukuran-ukuran keberhasilan yang nyata
Peran mentor perlu dimunculkan
Hal yang menarik perhatianku sepanjang membaca buku ini adalah bagian pembahasan mengenai peran mentor. Mentor yang mampuh mentransformasi anak-anak berusia belasan tahun ini menjadi dewasa utuh yang mampuh menemukan jati dirinya, mengenali dan mengembangkan potensi dan mentransformasi potensi tersebut menjadi bermanfaat bagi hidupnya dan masyarakat sekitarnya.
Jadi refleksi, tidak bermaksud membandingkan, namun melihat seorang teman dulu waktu sekolah begituh dekat dengan pembimbingnya sampai sekarang hubungan itu tetap terjalin dengan baik. Dan yang aku perhatikan, pembimbing itu tidak hanya berperan sebagai pembimbing tugas akhrinya. Tapi lebih ke peran seorang mentor seperti yang dimaksudkan dalam buku ini. Udah ga usah ditanyakan lagi ya saat ini temanku itu sudah jadi apa.
Apakah ini berarti, peran mentor begituh crusial? Begituh penting sehingga seorang anak bisa menggapai cita-citanya?
Rasanya beruntung sekali, berkah hidupnya bisa menemukan mentor. Padahal peran seorang mentor ini tidak musti diperankan oleh seorang guru, atau oran lain. Kesempatan besar yang pertama untuk menjadi mentor justru ada pada orang tua. Apakah bisa? bisa, InsyaAllah bisa, karena di buku ini sangat jelas digambarkan bagaimana seorang mentor itu. Mulai dari kriteria, peran dan fungsinya. Tentu kita sebagai orang tua bisa mempelajarinya. Dan meneguhkan (sekali lagi), bahwa peran orang tua tidak hanya sampai memberikan pendidikan yang layak atau hanya sampai terpenuhinya sandang, pangan dan papan saja. Tapi sampai anak-anak kita bisa menemukan dan mengukuhkan siapa dirinya saat dewasa kelak.
It takes a village to rise a child
Ust. Aad menggambarkan dan menjelaskan di bab terakhir buku ini, bahwa lingkungan memiliki peran penting dalam proses pendidikan seorang anak (yang dalam hal ini, proses mendidik remaja menjadi dewasa). Lingkungan sebagai sumber daya yang dibutuhkan dalam proses remagogi bersama sumber daya lainnya (seperti sumber daya manusia, sistem dan budaya), dalam hal ini yang menarik perhatian saya adalah lingkungan tempat tinggal. Sudah lama rasanya mendengar pepatah "it takes a village to rise a child" atau butuh orang sekampung untuk membesarkan seorang anak, tapi baru kali ini saya paham bagaimana cara agar bisa mewujudkannya.
Pertama-tama : memanfaatkan rapat-rapat RT, arisan blok, atau acara perkumpulan di Lingkungan untuk membuat komitmen yang disepakati bersama-sama untuk menciptakan lingkungan rumah yang berperan sebagai sumber daya lingkungan bagi pendewasaan anak-anak kita semua.
Kedua : bermusyawarah dan bersepakat, serta sama-sama ikhlas untuk berkomitmen terhadap sebuah nilai tentang semua warga, semua orang dewasa yang berada di sekitar situ harus dan boleh menjadi pendidik bagi proses pendewasaan anak-anak kita semua.
Ketiga : menumbuhkan keihlasan bahwa para tetangga kita itu memiliki hak dan kewajiban untuk ikut mendidik anak-anak kita, begitupun sebaliknya.
Sehingga lingkungan RT dan RW bisa bertransformasi menjadi kekuatan pendidikan untuk proses pendewasaan anak-anak kita, karena lingkungannya berperan di dalamnya.
Indah sekali ya jika bisa diwujudkan?
Kita, para orang tua yang memiliki anak remaja tentu tidak akan merasa sendirian untuk mendidik mereka menjadi dewasa. Karena lingkungan tersedia dan orang-orang di dalamnya juga turut terlibat. Maka mungkin nanti tidak ada tuh remaja yang membebani lingkungan. Atau orang tua yang galau bin resah karena ulah anak-anak remaja mereka.
Sebenarnya aga gusar juga dengan prinsip ini sih ya, secara pribadi. Khawatir iya, tidak percaya iya, karena memang nyatanya di lingkungan kita tidak semua orang benar-benar baik juga tidak semua orang benar-benar jahat. Makanya menurut ust. Aad sebelum mewujudkannya kita perlu diskusi, musyawarah, memahami situasi dan menerima tanggung jawab ini secara bersama-sama. Apakah bisa terwujud?
Penutup
Buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh para orang tua yang memiliki anak akan berusia belasan tahun. Sangat jelas dijabarkan bagaimana kondisi anak remaja, metode dan teknik, sumber daya yang dibutuhkan. Serta di dalamnya juga kita bisa mendapatkan indikator - indikator apa saja yang harusnya bisa dicapai anak-anak untuk menjadi dewasa seutuhnya. Dan juga, kembali diingatkan untuk menhadirkan Allah dalam proses pendidikan anak-anak kita.
Wawallahu a'lam bish shawab...
(Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenarannya)
0 Komentar