Judul Buku : Suka-Suka Homeschooling (Kumpulan Kisah dan Wawancara Pegiat Homeschooling)
Penyunting : Much Ridho
Jumlah Halaman : 142
Tahun Terbit : 2018
Penerbit : KM Publishing
Homeschooling adalah salah satu pilihan alternatif untuk mendidik anak-anak kita, selain pilihan sekolah formal. Homeschooling adalah pendidikan mandiri yang tanggung jawabnya dipegang secara langsung oleh kedua orang tuanya.
Homeschooling sudah banyak dipilih oleh banyak keluarga di luar negeri. Begitupun di negara kita, ada banyak keluarga yang memilih homeschooling sebagai jalur pendidikan untuk anak-anak mereka.
Seperti halnya memilih sekolah, tentunya memilih jalur pendidikan mandiri ini juga butuh banyak pertimbangan.
"Mengapa ada keluarga yang memilih tidak menyekolahkan anak-anaknya dan lebih memilih mengajari sendiri anak-anak mereka di rumah?"
Alasanya ada beragam, setiap keluarga pasti punya alasannya sendiri. Untuk anda yang sedang "menimbang" dan mencari alternatif pendidikan selain pendidikan formal, buku ini cocok untuk dibaca.
Pandangan Umum tentang buku "Suka-suka Homeschooling"
Buku ini dibuat oleh Much Ridho, seorang founder Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim (HSKM). Menurut informasi, buku ini terlahir sebagai hasil dari sayembara yang diikuti oleh banyak keluarga pegiat homeschooling atau biasa disebut praktisi homeschooling, yang tergabung dalam komunitas tersebut.
Isi buku ini secara umum berkisah tentang bagaimana sebuah keluarga memutuskan untuk memilih homeschooling dengan berbagai alasan dan pertimbangannya, tantangan atau masalah yang dihadapi ketika berada di awal perjalanan homeschooling, bagaimana cara mereka mengawali kegiatan homeschooling, apa yang mereka dapat setelah memilih homeschooling?
Buku ini ringan untuk dibaca, dan bisa dibawa kemana saja. Dengan ukuran kertas A5, dan jumlah halaman yang tidak terlalu banyak. Serta pembahasan yang to the point, sangat cocok dijadikan reverensi bacaan untuk anda yang sedang menimbang homeschooling.
Apa yang Saya dapat Setelah Membaca Buku Ini?
Karena buku ini berisi kumpulan kisah banyak keluarga, saya jadi dapat banyak pandangan dari berbagai keluarga dalam memulai perjalanan homeschoolingnya.
Ada banyak alasan mereka memilih homeschooling, diantaranya karena kondisi anak yang mengalami bulliying di sekolahnya sehingga membuat si anak trauma dan terlihat tertekan saat sekolah. Anak jadi tidak bersemangat untuk belajar, terlihat lesu, apa lagi saat akan menghadapi ujian akhir. Setelah memilih dan menjalani homeschooling, anak kembali bersemangat untuk belajar. Apalagi karena dibebaskan untuk memilih belajar apa saja yang disukainya.
Ada keluarga yang memilih homeschooling ketika anak-anaknya masih usia dini. Sebagian besar beralasan ingin menanamkan nilai-nilai penting pada anak-anak sejak dini, terutama nilai-nilai keimanan dan agama. Atau karena kondisi lingkungan yang dirasa tidak cocok dengan value keluarga, atau karena merasa kelekatan antara anak dan orang tua kalah dibandingkan kelekatan antara anak dengan gurunya.
Yang menarik, selain berisi kisah yang ditulis oleh orang tua, buku ini juga memuat tulisan pengalaman dari seorang anak yang melaksanaakan homeschooling juga. Kisah Adiva, seorang anak berusia 15 tahun, memutuskan setuju dengan tawaran homeschooling dari orang tuanya. Tentu saja perjalanan awal homeschoolingnya tidak mudah. Adiva tahu bahwa ketika hs, dia memiliki waktu bebas atau waktu luang yang lebih banyak dibandingkan bersekolah. Ini juga yang menjadi alasannya untuk hs, dengan harapan bisa punya banyak waktu untuk menulis cerita. Tetapi, kondisi ini justru membuatnya terlena. Dia malah menggunakan waktunya untuk melakukan lebih banyak kegiatan yang tidak banyak bisa dilakukan ketika masih bersekolah. Yaitu menonton anime dan membaca komik manga. Kondisi ini berlangung selama 4 bulan.
Bagaimana dengan orang tua Adiva? Apakah mereka tidak bertindak, melihat kelakuan anaknya seperti ini?
Orang tua Adiva justru memberikan kebebasan penuh pada Adiva untuk bertanggungjawab terhadap pilihannya. Karena, selama 4 bulan itu, akhirnya Adiva merasa bahwa hari-harinya tidak berguna, tidak produktif, waktu bebebas yang dia idam-idamkan untuk bisa melakukan hobi menulisnya justru terbuang percuma. Adiva melakukan refleksi, mengevaluasi diri sendiri. Adiva, anak usia 15 tahun, kemudian mampuh membuat keputusan sendiri untuk memulai. Dia membuat rencananya, dia mulai menulis, menilai sendiri tulisannya, apa yang dia butuhkan dan harus dilakukan untuk memperbaiki dan menaikkan keterampilannya, dia mampuh membuat jadwal dan mengelola kesehariannya.
Disinilah saya mendapat pelajaran berharga. Bahwa di tengah kebebasan, ternyata anak-anak bisa membuat keputusannya sendiri tanpa intervensi dari orang tua. Kita sebagai orang tua hanya perlu BERSABAR dan TIDAK BERGEGAS.
Jadi, selain dapat pandangan dari sesama orang tua, kita juga bisa mendapat cerita dari sudut pandang anak melalui pengalaman diawal-awal perjalanan homeschoolingnya.
Setelah membaca buku ini, kesan saya adalah butuh keberanian dalam memutuskan memilih homeschooling sebagi jalur pendidikan untuk anak-anak kita. Dan para orang tua yang menuliskan kisahnya disini adalah orang-orang pemberani. Berani mengambil keputusan dan berani bertindak, ketika dirasa sekolah formal tidak cocok dengan anak-anak mereka atau tidak sesuai dengan visi misi pendidikan keluarga mereka. Alih-alih menanti perubahan sistem pendidikan, yang sudah terdengar gaungnya bahwa sistem persekolah kita sudah ketinggalan zaman. Mereka memilih untuk menarik anak-anak mereka dari sekolah dan mengajarinya sendiri di rumah.
Yang tidak kalah menarik dari cerita-cerita dibuku ini, saya melihat pola yang sama pada para orang tua dan keluarga homeschooling. Yaitu, mereka (sebagian besar) awalnya tidak tahu menahu apa itu homeschooling dan bagaimana cara menjalankannya? Dari ketidaktahuan ini mereka bertindak dengan cara mencari tahu, mereka mau membuka diri untuk belajar kembali, entah itu dari membaca buku, ikut kelas pe ngetahuan dasar tentang homeschooling, dan lain sebagainya. Yang kemudian membuat mereka terus belajar ilmu-ilmu baru demi memperkaya pengetahuan dan memperbanyak bekal demi membersamai anak-anak. Maka tidak heran, jika ada istilah yang menyatakan bahwa "keluarga homeschooling adalah keluarga pembelajar". Karena tidak hanya anaknya yang belajar melainkan juga orang tuanya.
Pola yang kedua adalah ketidak mudahan saat mengawali proses homeschooling. Semua praktisi homeschooling pasti mengalami proses bongkar pasang keseharian demi menemukan pola keseharian yang cocok. Bagaimana proses homeschooling tetap berjalan di tengah kesibukan kegiatan kerumah tanggaan? Apalagi proses deschooling yang harus dilalui oleh keluarga yang anak-anaknya sudah pernah bersekolah. Mereka tidak langsung tancap gas, dengan cepat berjalan lancar kesehariannya.
Tapi, kemudian di tengah semua peristiwa itu, para keluarga praktisi homeschooling merasakan manfaat bersama proses yang mereka jalani. Entah jalinan bonding antar anak dengan orang tua jadi lebih baik, perbaikan pada minat belajar anak jadi lebih semangat, dan sebagainya.
Di antara rangkaian proses perjalanan homeschooling mereka itu, mereka yakin dengan pilihan mereka, mereka berjuang demi mencapai visi dan misi pendidikan dari keluarga mereka. Sudahkah kita memiliki visi dan misi pendidikan keluarga? Atau kita hanya ikut-ikutan menjadi orang tua sama persis polanya seperti berdasarkan pengalaman saat kita menjadi seorang anak? Sudahkah kita berpikir, untuk apa pendidikan ini dijalani oleh anak-anak kita? Apakah supaya mereka pintar dalam segala hal? Atau demi untuk agar supaya anak-anak kita bisa menjalani kehidupannya dengan baik?
0 Komentar