Judul Buku : Menumbuhkan dan Merawat Fitrah Keimanan

Penulis : Adriano Rusfi

Kategori : Non-fiksi (Literatur)

Jumlah Halaman : 213

Harga : Rp 95.000

Tahun Terbit : Desember 2021

Penerbit : CV. Salamuda Creative 




Masih ingat dengan buku "Fitrah Based Education" karangan ustad Harry Santosa?

Reviewnya ada di sini https://mommynely.blogspot.com/2022/02/mendidik-anak-sesuai-fitrahnya-review.html

Setelah membaca buku itu, saya jatuh hati dengan konsep belajar sesuai fitrah. Dimana setiap anak di dunia ini terlahir sempurna dengan sebaik-sebaiknya bentuk dan telah dianugerahkan oleh Allah segala potensi fitrah dalam diri anak. Dari buku ini juga, saya disadarkan untuk melibatkan Allah dalam proses mendidik anak-anak. Buku ini sungguh meninggalkan kesan yang sangat dalam pada diri saya.

Sejalan dengan buku tersebut, Ustad Adriano Rusfi  juga menerbitkan buku "Menumbuhkan dan Merawat Fitrah Keimanan", Saya tertarik membacanya, karena pemikiran Ustad Adriano Rusfi juga muncul di tulisan Ustad Harry Santosa. Dan juga saya ingin tahu lebih banyak serta lebih dalam lagi mengenai bagaimana cara menumbuhkan dan merawat fitrah keimanan pada anak-anak. Yang menurut belaiu-beliau ini menumbuhkan fitrah keimanan jauh lebih penting dan harus didahulukan dari pada mengajarkan adab dan syariat pada anak-anak.

Pandangan Umum Tentang Buku Menumbuhkan dan Merawat Fitrah Keimanan

Buku ini berukuran kertas a5, sepeti kebanyakan buku pada umumnya. Dengan jumlah halaman 213 halaman, sudah termasuk profil singkat penulis, ringan ditangan sehingga sangat mudah untuk dibaca dan dibawa kemana-mana. 

Saya suka sekali dengan gaya tulisan yang disajikan, serasa mendengarkan  Ustad Adriano Rusfi berbicara dan menyampaikan materi secara langsung. Bahasanya lembut, namun tetap dilengkapi data-data pendukung teori dan pandangan beliau mengenai suatu kejadian/permasalahan. Cara beliau mengambil sudut pandang terhadap kejadian atau permasalahan berdasarkan pengalaman yang terjadi dalam kehidupan beliau sungguh membuat saya berpikir "ko bisa ya, seperti itu? eh, ternyata bisa juga seperti itu?"

Buku ini juga mengingatkan kita untuk kembali pada syariat islam, melihat sejarah Nabi Muhammmad mendidik para sahabat pada masa-masa awal kemunculan islam. Dan menjadikannya sebagai landasan yang kita gunakan dalam mendidik anak-anak kita.

Apa Yang Saya Dapat Setelah Membaca Buku ini?

Di Bab I saya dapat pandangan bahwa sistem pendidikan kita, terutama pendidikan agama, baik di sekolah umum ataupun sekolah-sekolah yang berlabelkan islam, pendidikan anak-anak usia sekolah dasarnya lebih mengutamakan aspek pendidikan ibadah dan akhlak yang hasilnya mudah untuk di ukur. Serta yang saat ini sedang jadi fenomena adalah tujuan pendidikan itu sendiri adalah menjadikan anak-anak sebagai hafizh qur'an. Kita lupa pada landasan dari itu semua, harusnya yang lebih diutamakan di ajarkan pemahamannya, dan diajarkan pertama kali adalah keimanan dan aqidah. Menurut Ustad Adriano Rusfi, hal ini terjadi karena pendidikan keimanan dan aqidah lebih sulit untuk diukur pencapaiannya dibandingkan dengan pendidikan ibadah, akhlak, pun juga hafiz qur'an.

Indikator apa yang bisa kita pakai untuk mengukur tingkat kedalaman ke imanan seorang anak? dari banyaknya dia hafal ayat-ayat al-qur'an dan hadis? Dari rajinnya dia beribadah sholat dan puasa? atau dari kealiman adab dan tingkah laku nya?

Disinilah dibahas bagaimana pendidikan islam saat ini meng-anak emas-kan Tahfizh al-qur'an, dan aspek pendidikan ibadah dan akhlak sebagai anak kandungnya, serta pendidikan keimanan dan aqidah sebagai anak tirinya. Fenomena yang melatar belakangi "si anak hilang", bagaimana bisa anak yang ketika usia dini (tk & sd) sangat rajin beribadah sholat, berpakaian secara syar'i. Namun kemudian, terlihat ogah-ogahan ketika usianya semakin besar.

Di bab II, kita dihadapkan pada fakta dalam sejarah islam saat Rasulullah SAW, mengawali dakwah saat penyebaran agama islam di awal masanya adalah berfokus pada pengokohan aqidah selama kurun waktu 13 tahun untuk menanamkan ke Imanan dan ke tauhidan. Barulah 10 tahun berikutnya tentang aspek syariat, ibadah dan akhlak. Mengapa ini tidak kita jadikan dasar dalam pendidikan islam kita?

Bukankah iman itu artinya menumbuhkan kepercayaan hati, kemudian menumbuhkan cinta. Jika hati sudah percaya dan sudah jatuh cinta maka apapun perintah dan keinginan oleh yang kita cintai akan coba kita lakukan? Begitupun pada praktek pendidikan islam.

Bab III & IV, kita para orang tua diminta untuk bersabar dalam mendidik keimanan dan aqidah pada anak-anak kita. Pendidikan keimanan dan aqidah hasilnya tidak bisa dilihat untuk saat ini, melainkan untuk masa depan. Disini, dijelaskan juga mengenai teknis dasar dan metode dalam menjalankan pendidikan keimanan dan aqidah, yang salah satunya adalah memulai berpikir dengan menggunakan hati. Dan pesan dari Ustad Adriano Rufi adalah bahwa Aqidah itu tidak diajarkan, melainkan ditularkan dari hati ke hati, lewat bahasa hati.

Bab V, walaupun di bab sebelumnya dikatakan bahwa tidak mudah mengukur tingkat pencapaian atau kedalaman ke imanan seorang anak. Tapi, indkator untuk mengukurnya tetap ada dan kita bsa saja menguji keimanan anak-anak kita. Dan ini bisa dilakukan setelah usia anak 12 tahun. Dimana pendidikan keimanan kita dikatakan berhasil ketika anak-anak kita berusia 12 tahun ke atas memiliki kualitas yang bagus. Ketika anak mampuh dan mengambil sikap, barulah terlihat apakah dia beriman atau tidak. Misalnya, pada usia ini, kita pantas menguji apakah dia shalat dan berpuasa  atas kemauan sendiri? Kemudian, apakah dia sudah menjadikan Allah sebagai tempat bergantung ketika dia menghadapi masalah?

Di bab terakhir, hal yang membuat saya tertarik adalah bagaimana metode berkisah merupakan metode yang ampuh digunakan untuk menanamkan nilai keimanan dan kebaikan dalam diri anak, bakan sejak usia dini. Sangat tidak disarankan dengan metode menasehati anak secara langsung apalagi lewat doktrin-doktrin keras, karena akan timbul kebosanan pada diri anak. 

Di bab ini juga diceritakan bagaimana kita bisa saja mewujudkan mimpi kita ketika kita sedang fokus untuk mewujudkan mimpi orang lain. Kok bisa? 

Yang bisa saya ambil hikmah dari ini adalah kita tidak usah terlalu "ngoyo" atau "ngotot" dan berambisi dalam mewujudkan mimpi kita, karena ketika Allah berkehendak maka kesempatan mewujudkan mimpi kita itu justru bisa saja muncul ketika kita sedang sibuk dengan mimpi orang lain. Hal ini oleh ustad Adriano Rusfi diambil dari hikmah kisah Nabi yusuf, dimana mimpinya tentang 11 bintang, bulan, dan matahari bersujud padaanya itu terwujud ketika nabi Yusuf sibuk untuk mewujudkan mimpi raja tentang sapi-sapi kurus yang memakan sapi-sapi gemuk.

Hal ini, membuat saya yakin, bahwa ketika saya memutuskan menjadi ibu rumah tangga yang hanya berada dirumah, menemani anak-anak, dan sambil mengurus kerumah tanggaan. Akan bisa mewujudkan mimpi-mimpi saya, sambil saya tetap fokus untuk menggapai mimpi-mimpi anak-anak dan suami saya. InsyaAllah.

Kesan Setelah Membaca Buku Ini

Setelah membaca buku ini, pemahaman yang saya dapatkan adalah bahwa pendidikan keimanan, ketauhidan, dan aqidah itu penting untuk diajarkan pertama kali sejak anak usia dini. Kita memang tidak bisa melihat hasilnya secara cepat, tetapi pendidikan ini akan sangat berguna dan menjadi landasan dasar dalam perkembangan pendidikan islam di hari berikutnya.

Bahwa, hendaklah kita mulai melatih dan berpikir dengan menggunakan hati. Karena dengan bahasa hati dan keteladanan orang tua maka keimanan dan aqidah bisa ditularkan ke anak-anak melalui hati ke hati.

Ada banyak hikmah dari kisah-kisah yan disampaikan Ustad Adriano Rusfi di buku ini, yang membuat saya tercengang "Oh, ko bis ya diambil hikmahnya demikaian?"

Salah satunya, tentang lagu anak-anak "cicak-cicak di dinding" yang menurut beliau ini adalah lagu tentang keajaiban rezeki Allah. Yang bisa kita manfaatkan untuk menanamkan Keimanan anak-anak terhadap konsep rezeki yang diatur Allah. Bagimana cicak bisa menangkap nyamuk yang terbangnya sangat cepat gampang bermanuver untuk menghindar, padahal cicak bergerak merayap dan tidak bisa bergerak dengan lincah?

Ada banyak ide kegiatan juga disampaikan di buku ini. Ide kegiatan untuk anak-anak usia dini (di bawah 7 Tahun) dan untuk anak-anak usia 7 tahun ke atas. Ide kegiatan yang bisa kita gunakan untuk mengajarkan keimanan pada anak-anak kita. Ide-ide kegiatan itu sangat sederhana sebenarnya, dan juga kadang membuat kita harus sedikit berusaha mewujudkannya. Dan jangan lupa untuk selalu menceritakan hikmah dari setiap kegiatan yang berlangsung.

Semoga, kita sebagai orang tua bisa terus istiqomah dalam mendampingi dan mendidik anak-anak kita untuk menghadirkan dan melibatkan Allah dalam segala prosesnya. 

"KIta perlu menahan rasa iri dari melihat anak-anak orang lain, untuk mengejar hasil jangka panjang". Usatad Adriano Rusfi

Sampai jumpa lagi di ulasan/review buku selanjutnya. Termakasih dan

Wassalamualaikum wr.wb.

Mommy Nely